Oleh: Syafrudin Budiman, SIP
Ketua Umum DPP Perhimpunan UKM Indonesia / Koordinator Nasional Aliansi Relawan Prabowo Gibran (ARPG)

Berita Teraktual
Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Mei 2026 mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan. Nilai Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp3.447,7 triliun.
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatat pertumbuhan tertinggi 13,14%. Saya menilai hasil ini sebagai bukti positif dan apresiasi atas kerja pemerintah. Kenaikan ini juga menunjukkan Visi-Misi Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran mulai terasa nyata di lapangan.
Belanja Pemerintah Jadi Penopang, Tapi Tantangan Menanti
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pemerintah harus memastikan mesin pertumbuhan tetap terjaga pascakuartal I-2026. Tantangan ke depan adalah menjaga kepercayaan investor, stabilitas rupiah, dan kepastian kebijakan bagi sektor swasta.
“Untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat sampai akhir tahun, yang lebih penting adalah itu,” ujarnya di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Yusuf menyebut pertumbuhan kuartal I-2026 ditopang masifnya belanja pemerintah. Lonjakan belanja 21,81% menjadi yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir, didorong momen Lebaran, THR, bantuan sosial, dan program Makan Bergizi Gratis yang berjalan lebih masif.
“Dalam situasi ekspor belum kuat dan investasi swasta masih tertahan, fiskal dipakai untuk menjaga momentum agar ekonomi tidak melambat terlalu dalam di awal tahun,” jelasnya.
Menurutnya, langkah ini wajar ketika sektor swasta belum bergerak kuat. Namun ia mengingatkan pemerintah agar menjaga ruang fiskal tidak terlalu longgar, mengingat defisit APBN di awal tahun sudah cukup berat. Tantangan sesungguhnya, kata Yusuf, justru mulai terlihat pascakuartal I-2026.
Dorongan Hilirisasi dan Ekspor Jadi Kunci
Ekonom INDEF Didik J. Rachbini menilai pertumbuhan yang masih berkutat di kisaran 5% menjadi tantangan serius. Ia menyebut kebijakan ekonomi nasional masih terlalu inward looking, sehingga membatasi ruang gerak industri untuk berkembang optimal.
Indonesia, kata Didik, perlu kembali ke orientasi luar untuk memacu ekspor. “Jika visi dan orientasi ekonomi seperti ini terus dijalankan, jangan harap ekonomi akan tumbuh tinggi. Sektor swasta dan BUMN juga mundur ke belakang menjadi inward looking,” ujarnya.
Ia menambahkan, investasi yang masuk saat ini didominasi sektor bernilai tambah rendah seperti jasa konsultasi dan industri ekstraktif, sehingga transfer teknologi dan penciptaan kerja berkualitas belum optimal. Kinerja ekspor Indonesia juga masih kalah dari Vietnam yang sudah menembus USD1.000 miliar.
Pemerintah Klaim Daya Beli Masyarakat Kuat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pertumbuhan 5,61% ditopang kuatnya konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 2,94% terhadap PDB. Daya beli masyarakat, menurutnya, tetap terjaga dan tumbuh signifikan.
“Investasi memberi kontribusi 1,79%, sementara belanja pemerintah 1,26%. Pola belanja pemerintah kini diarahkan terealisasi lebih awal agar dampaknya merata sepanjang tahun,” jelasnya.
Pemerintah juga menjalankan sinergi kebijakan fiskal dan moneter melalui percepatan belanja K/L dan program prioritas nasional sejak awal tahun.
Langkah Awal Melewati Kutukan 5%
Angka 5,61% merupakan pertumbuhan tertinggi kuartal I dalam 13 tahun terakhir, sejak 2013 yang mencatat 6,03%. Capaian ini melampaui proyeksi sejumlah lembaga internasional dan menempatkan Indonesia di atas sebagian besar negara G20.
Pertumbuhan ini ditopang konsumsi rumah tangga saat Ramadan dan Idul Fitri 1447 H, peningkatan wisatawan nusantara 13,14%, serta penumpang angkutan darat yang naik 20,20%. Program MBG menyerap Rp55,3 triliun APBN dan menjangkau 61,8 juta penerima hingga akhir Maret 2026.
Teori dan Arah Kebijakan
Menurut Sadono Sukirno, pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan yang menyebabkan barang dan jasa bertambah serta kemakmuran masyarakat meningkat. Pertumbuhan ekonomi juga menjadi indikator keberhasilan pembangunan.
Pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini mendorong produksi barang dan jasa agar bertambah, melalui hilirisasi di berbagai sektor dan prioritas ekspor barang jadi dibanding bahan mentah. Sektor manufaktur olahan logam, mesin, dan kendaraan kini menjadi motor penggerak ekspor nasional.
Jika arah ini dijaga konsisten, saya optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus meningkat di atas 6% ke depan.
Referensi:
- JPNN, 2026
- http://Swa.co.id, 17/5/2026
- http://Kompas.tv & http://kemenkeu.go.id, 5-6/5/2026
- Sadono Sukirno, Teori Pengantar Makro, 2008
- Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Modern, 2007
(Red/Sky)