
Berita Teraktual
Menjelang datangnya bulan suci Romadhon, umat Muslim di berbagai daerah di Indonesia kembali menghidupkan tradisi nyekar makam. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk persiapan spiritual lahir dan batin sebelum memasuki bulan penuh ampunan dan keberkahan.
Nyekar makam yang dilakukan dengan membersihkan area pemakaman, menabur bunga, serta memanjatkan doa bagi arwah orang tua dan leluhur, telah menjadi bagian dari kearifan lokal umat Islam di Nusantara. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini tetap lestari, menandakan kuatnya nilai religius yang berpadu dengan budaya.
Pelaksanaan nyekar biasanya dilakukan bersama keluarga. Di tengah suasana khidmat, doa-doa dipanjatkan, surah Yasin dan tahlil dilantunkan, menciptakan nuansa kebersamaan yang sarat makna. Lebih dari itu, nyekar menjadi momentum untuk mengingat asal-usul, mendoakan mereka yang telah mendahului, serta merefleksikan perjalanan hidup sebelum memasuki Romadhon.
Tradisi ini juga mengandung pesan mendalam tentang rasa syukur karena masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan suci. Doa-doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan bagi para almarhum, tetapi juga sebagai permohonan agar diberikan kesehatan, kelancaran, dan keberkahan dalam menjalankan ibadah puasa.
Sebagaimana diungkapkan salah seorang warga yang melakukan nyekar makam orang tuanya pada Jumat (6/2/2026), tradisi ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi keluarga menjelang Romadhon, sekaligus momen untuk saling memaafkan. Nilai kebersamaan inilah yang kerap terlupakan di tengah kesibukan kehidupan modern.
Meski dilaksanakan secara sederhana di pemakaman umum maupun makam keluarga, nyekar tetap menyimpan makna spiritual yang mendalam. Tradisi ini mengajarkan umat Muslim untuk rendah hati, mengingat kematian, serta menyiapkan diri dengan hati yang bersih sebelum memasuki bulan penuh ibadah.
Redaksi memandang, nyekar makam bukanlah praktik yang bertentangan dengan nilai keislaman, melainkan ekspresi budaya religius yang memperkuat kesadaran spiritual dan sosial umat. Selama dilakukan dengan niat berdoa dan mengingat Allah, tradisi ini justru menjadi sarana memperdalam keimanan.
Dengan menjaga dan memaknai tradisi nyekar makam, umat Muslim diharapkan dapat menyambut bulan suci Romadhon dengan jiwa yang tenang, hati yang lapang, serta semangat untuk meningkatkan ketakwaan dan kepedulian terhadap sesama.(AHD)