Oleh: Syafrudin Budiman SIP (Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Ilmu Politik Universitas Nasional)

Berita Teraktual
Kapitalisme dan globalisasi telah menjadi dua konsep yang sangat terkait dalam sistem ekonomi modern. Kapitalisme, sebagai sistem ekonomi yang didasarkan pada kepemilikan individu dan keuntungan, telah berkembang menjadi sistem global yang mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia. Globalisasi, sebagai proses integrasi ekonomi, politik, dan budaya antar negara, telah mempercepat penyebaran kapitalisme ke seluruh dunia.
Namun, kapitalisme dan globalisasi juga telah menimbulkan banyak kritik dan kontroversi. Banyak yang berpendapat bahwa kapitalisme telah meningkatkan kesenjangan ekonomi dan sosial, serta merusak lingkungan. Globalisasi juga telah dituduh sebagai alat untuk memperluas kekuasaan negara-negara maju dan perusahaan multinasional.
Dalam konteks ini, Yoshihara Kunio dan Baswir (2009) telah melakukan analisis kritikal terhadap kapitalisme dan globalisasi. Mereka berpendapat bahwa kapitalisme di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki ciri-ciri yang unik, seperti dominasi pemburu rente, lemahnya basis industri teknologi, dan ketergantungan pada modal asing.
Yoshihara Kunio, dalam bukunya “The Rise of Ersatz Capitalism in South-East Asia”, menjelaskan bahwa kapitalisme di Asia Tenggara lebih banyak berfokus pada pencarian rente daripada pada inovasi dan produktivitas. Hal ini menyebabkan ekonomi Asia Tenggara menjadi sangat bergantung pada modal asing dan tidak memiliki basis industri yang kuat.
Baswir (2009) juga menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi Indonesia dalam menghadapi globalisasi. Ia berpendapat bahwa Indonesia harus beralih dari sekadar penjual bahan mentah menjadi negara yang berdaulat secara ekonomi, berfokus pada hilirisasi, dan memperkuat pasar domestik.
Dalam konteks hubungan dagang Indonesia-AS, tesis Baswir (2009) tetap relevan sebagai kritik struktural. Indonesia harus berhati-hati dalam menghadapi kebijakan tarif AS dan memperkuat ekonomi domestik untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor.
Dengan demikian, analisis kritikal terhadap kapitalisme dan globalisasi sangat penting untuk memahami sistem ekonomi modern dan mencari solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Relevansi Kapitalisme Semu Yoshihara di Era Sekarang
Kapitalisme semu Yoshihara memiliki relevansi yang sangat tinggi di era sekarang, bahkan sering dikutip untuk menjelaskan dinamika ekonomi-politik di Indonesia dan Asia Tenggara modern. Meskipun Orde Baru sudah berakhir, pola kapitalisme yang bergantung pada kedekatan dengan kekuasaan (kroniisme) masih bertransformasi ke era Reformasi dan digital.
Berikut adalah relevansi kapitalisme semu Yoshihara di era sekarang:
- Langgengnya Kapitalisme Kroni (Crony Capitalism)
- Keterlibatan Aparat dalam Bisnis (Bisnis Militer/Polri)
- Rendahnya Inovasi Teknologi
- Ekonomi Kroni Digital dan Startup
- Politik elektoral yang mahal
Inti Pokok Globalisasi, Baswir (2009)
Globalisasi penuh dengan pro dan kontranya. Namun dari pembahasan tersebut lebih banyak dampak negatifnya. Nah, untuk menghadapi efek dampak negatif dari globalisasi itu. Ada tiga perlawan terhadap globalisasi, antara lain; perlawanan yang melawan pelaksanaan agenda-agenda globalisasi. Melawan agenda-agenda globalisasi. Jangan sampai konsep globalisasi ditelan begitu saja.
Perlawanan terhadap neoliberalisme atau ideologi yang melatarbelakangi globalisasi. Globalisasi bisa disamakan dengan internasionalisasi. Oleh karena itu, system ekonomi untuk menolak globalisasi adalah prinsip ekonomi demokrasi.
Adapun agenda yang harus dilakukan berdasarkan prinsip internasionalisasi:
- Pertama, pembentukan lembaga-lembaga internasional guna mencegah penularan penyakit, konflik, pengrusakan lingkungan yang memiliki lingkup antar negara.
- Kedua, penataan ulang tata keuangan internasional, dengan melakukan penusunan mekanisme kebangkrutan internasional untuk memfasilitasi pelaksanaan arbitrase utang antar negara.
- Ketiga penataan ulang tata kelembangaan bank dunia bank-bank regional.
- Keempat, penataan ulang WTO melalui perubahan ideologi, perubahan mekanisme pengambilan keputusan.
Dengan demikian, analisis kritikal terhadap kapitalisme dan globalisasi sangat penting untuk memahami sistem ekonomi modern dan mencari solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(Red/Sky)