Oleh: Syafrudin Budiman, S.IP
Komisaris PT Jasa Marga Related Business (JMRB)

Pojok Aktual
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus menekankan pentingnya reformasi Badan Usaha Milik Negara atau BUMN agar lebih sehat, efisien, dan memberi kontribusi maksimal bagi negara. Salah satu pendekatan utamanya adalah streamlining atau penyederhanaan struktur BUMN melalui regrouping, penggabungan fungsi usaha, pengurangan entitas yang tumpang tindih, dan perbaikan tata kelola.
Kebijakan ini bukan sekadar upaya administratif. Streamlining BUMN adalah strategi besar untuk menciptakan perusahaan negara yang lebih kompetitif, mengurangi pemborosan, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan penerimaan negara.
Dalam konteks ekonomi nasional, langkah ini sejalan dengan arahan Presiden untuk menjaga outlook stable di bidang fiskal, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mempercepat akselerasi pendapatan negara demi kemajuan Indonesia.

Tujuan Utama Streamlining BUMN
Secara konseptual, streamlining berarti menyederhanakan proses, struktur organisasi, dan rantai bisnis agar perusahaan bekerja lebih efektif.
Tujuan utama streamlining pada BUMN antara lain:
- Mengurangi duplikasi usaha antar BUMN di sektor serupa
- Meningkatkan efisiensi operasional melalui penggabungan sumber daya, aset, dan fungsi pendukung
- Memperkuat fokus bisnis sehingga setiap BUMN memiliki mandat yang jelas
- Mempercepat pengambilan keputusan dengan memotong rantai birokrasi
- Meningkatkan daya saing BUMN di tingkat nasional dan global
- Meningkatkan kontribusi dividen dan pendapatan negara dari kinerja BUMN
Dengan struktur yang lebih ramping, BUMN diharapkan tidak lagi terbebani biaya administrasi berlebihan, koordinasi lambat, atau persaingan internal antar entitas negara.
Teori Efisiensi sebagai Dasar Reformasi
Dalam ekonomi dan manajemen, efisiensi berarti menghasilkan output maksimal dengan input minimal. Konsep ini sangat relevan bagi BUMN yang mengelola aset besar, tenaga kerja besar, dan anggaran operasional signifikan.
- Efisiensi Operasional
Dicapai melalui pengurangan biaya overhead, integrasi sistem teknologi informasi, sentralisasi fungsi pendukung seperti keuangan, SDM, pengadaan, dan logistik, optimalisasi penggunaan aset, serta penghapusan proses kerja berulang. - Efisiensi Alokatif
Sumber daya harus ditempatkan pada sektor yang memberi nilai tambah tertinggi. Modal negara perlu difokuskan pada sektor strategis yang memberi manfaat ekonomi dan sosial terbesar. - Efisiensi Dinamis
Berkaitan dengan kemampuan berinovasi dan beradaptasi terhadap perubahan pasar. BUMN yang terlalu birokratis sering lambat merespons peluang. Streamlining menciptakan organisasi yang lebih lincah dan adaptif.
Optimalisasi Pendapatan Negara
Manfaat utama streamlining adalah peningkatan pendapatan negara. Ketika biaya operasional turun dan produktivitas naik, laba perusahaan akan lebih besar. Laba itu pada akhirnya meningkatkan: dividen ke negara, pajak dari aktivitas usaha BUMN, Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP, nilai aset negara, dan kapasitas investasi BUMN untuk proyek strategis nasional.
Optimalisasi pendapatan berarti BUMN tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi negara.
Pemangkasan Birokrasi dalam Kerangka GCG
Reformasi BUMN harus sejalan dengan penerapan Good Corporate Governance atau GCG: Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, dan Kewajaran.
Pemangkasan birokrasi bukan berarti mengurangi pengawasan, melainkan menghilangkan lapisan proses yang tidak memberi nilai tambah. Dengan struktur sederhana: keputusan bisnis lebih cepat, risiko penyalahgunaan wewenang ditekan, proses pengadaan lebih transparan, pengawasan internal lebih mudah, dan pertanggungjawaban manajemen lebih jelas.
Birokrasi yang terlalu panjang justru membuka celah inefisiensi, konflik kepentingan, dan praktik tidak sehat.
Arahan Presiden: Menciptakan Outlook Stabil
Arahan Presiden dalam reformasi BUMN bertujuan menciptakan fondasi ekonomi kuat dan berkelanjutan. Dalam konteks outlook stable, sasarannya adalah:
- Stabilitas Fiskal: BUMN yang sehat menjadi sumber dividen dan penerimaan negara, sehingga mengurangi tekanan pada APBN
- Pertumbuhan Ekonomi: BUMN berperan di infrastruktur, energi, pangan, dan transportasi. Dengan efisiensi, investasi berjalan lebih cepat dan memberi efek berganda
- Akselerasi Pendapatan Negara: Potensi dari pajak, PNBP, dividen BUMN, dan pengelolaan SDA dioptimalkan
- Kepercayaan Investor: Outlook fiskal stabil meningkatkan kepercayaan investor domestik dan asing
Peran PT DSI dalam Penguatan Penerimaan Negara
PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI memiliki fungsi strategis dalam optimalisasi pendapatan negara, khususnya dari sektor sumber daya alam.
Fungsi utama PT DSI: mendukung integrasi data pendapatan negara, memantau transaksi ekspor SDA, meningkatkan akurasi pelaporan, mendukung pengawasan perpajakan, menyediakan sistem deteksi dini anomali transaksi, dan mencegah kecurangan pajak serta manipulasi pendapatan ekspor.
Tantangan besar di sektor SDA adalah potensi kebocoran: under invoicing, transfer pricing tidak wajar, manipulasi volume ekspor, penghindaran pajak, dan perbedaan data produksi dengan penerimaan negara.
Dengan mengintegrasikan data produksi, ekspor, kepabeanan, perpajakan, dan penerimaan negara, PT DSI dapat mempercepat deteksi potensi kecurangan. Manfaatnya: meningkatkan kepatuhan wajib pajak, mengurangi kebocoran, memastikan nilai ekspor benar, meningkatkan transparansi, dan memperkuat basis data kebijakan fiskal.
Sinergi Reformasi BUMN dan PT DSI
Streamlining BUMN dan penguatan PT DSI adalah dua sisi strategi yang sama: membangun negara yang efisien, transparan, dan berkapasitas pendapatan kuat.
Ketika BUMN efisien, negara mendapat manfaat dari laba dan dividen. Ketika pengawasan pajak dan ekspor SDA diperkuat, kebocoran penerimaan dapat ditutup. Kombinasinya memperkuat stabilitas fiskal dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Data Streamlining BUMN per 20 Juli 2026
Berdasarkan pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Kabinet Paripurna, 20 Juli 2026:
- Jumlah awal entitas BUMN: 1.077 perusahaan termasuk anak, cucu, dan cicit
- Telah di-streamlining hingga 31 Juli 2026: 250 perusahaan melalui konsolidasi, merger, dan penutupan
- Sisa setelah tahap pertama: sekitar 827 perusahaan
- Target 31 Desember 2026: maksimal 350 perusahaan. Artinya sekitar 727 entitas akan dikonsolidasikan, di merge, atau ditutup
Penghematan Negara
Dari 250 perusahaan yang telah dikonsolidasikan, pemerintah menghemat sekitar Rp50 triliun biaya rutin atau overhead cost. Penghematan berasal dari pengurangan gaji direksi dan komisaris, biaya operasional kantor, sewa gedung, listrik dan utilitas, perjalanan dinas, rapat, dan administrasi. Angka ini diperkirakan bertambah jika target akhir tahun tercapai.
Analisis Kebijakan
Program streamlining BUMN adalah implementasi prinsip GCG yang menitikberatkan efisiensi, transparansi, akuntabilitas, dan optimalisasi aset negara. Dengan menyederhanakan struktur, pemerintah tidak hanya memangkas birokrasi, tetapi juga mempercepat proses bisnis, memperkuat pengawasan, dan meningkatkan profitabilitas.
Dalam perspektif makro, penghematan Rp50 triliun dapat dialihkan untuk program prioritas nasional, memperkuat ruang fiskal APBN, menjaga outlook stable, dan meningkatkan kepercayaan investor.
Program ini menjadi fondasi mengoptimalkan penerimaan negara, mempercepat pertumbuhan ekonomi, dan memperkuat daya saing Indonesia melalui BUMN yang lebih ramping, profesional, dan berorientasi nilai tambah.
Penutup
Reformasi BUMN dan penguatan sistem pengawasan pendapatan negara adalah investasi jangka panjang. Negara yang mampu mengelola aset secara efisien dan menjaga integritas penerimaannya akan memiliki fondasi kuat untuk pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan rakyat.
(Red/Sky)