
Berita Teraktual-Kupang
Ketika semakin banyak anak muda bercita-cita menjadi kreator digital, profesional teknologi, atau pekerja di sektor jasa, sebuah pertanyaan penting mengemuka di Aula Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana atau Undana, Senin, 15 Juni 2026.
Siapa yang akan menanam pangan Indonesia di masa depan? Pertanyaan tersebut menjadi benang merah Seminar Nasional bertajuk: “Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan.”
Acara ini mempertemukan akademisi, tokoh adat, praktisi pangan, pegiat pemberdayaan masyarakat, serta mahasiswa untuk membahas masa depan sektor pangan di tengah tantangan yang semakin kompleks.
Pertanian Bukan Sekadar Bercocok Tanam
Bagi sebagian generasi muda, pertanian masih sering dipandang sebagai pekerjaan berat, kotor, dan kurang menjanjikan. Namun bagi Prof. Dr. Ir. Doppy Roy Nendissa, M.P., CRA., CRP., C.SEPro, akademisi Universitas Nusa Cendana, cara pandang tersebut perlu diubah.
“Pangan bukan sekadar beras, melainkan seluruh sumber nutrisi yang menopang kehidupan masyarakat. Karena itu sektor pangan akan selalu relevan, bahkan ketika banyak bidang lain mengalami perubahan,” kata Prof. Doppy dalam rilis media, Rabu, 22 Juli 2026 di Kupang.
Ia mengajak mahasiswa melihat pertanian bukan hanya sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai ruang lahirnya inovasi dan solusi. Menurutnya, generasi muda saat ini tidak hanya dituntut mencari pekerjaan, melainkan menciptakan peluang dan menjawab persoalan masyarakat.
“Kita memiliki jagung, sorgum, singkong, ubi, sagu, talas, hingga kelor. Pertanyaannya bukan apakah kita punya potensi, tetapi apakah kita mau menciptakan solusi dari potensi tersebut,” ujar Prof. Doppy.

Menurutnya, peluang terbesar ada pada kemampuan membangun jejaring, membaca kebutuhan pasar, serta menghadirkan inovasi yang menghubungkan petani dengan konsumen. Banyak produk pertanian gagal berkembang bukan karena tidak berkualitas, melainkan karena diproduksi tanpa memahami kebutuhan pasar.
Tantangan NTT: Bukan Lahan, Tapi Air
Praktisi Pangan Dr. Laurensius Lehar, S.P., M.P. menjelaskan tantangan utama pertanian di NTT bukanlah keterbatasan lahan, melainkan ketidakpastian air.
“Sekitar 74 persen wilayah pertanian NTT merupakan lahan kering dengan curah hujan rendah dan musim kemarau panjang. Kondisi itu membuat produktivitas sejumlah komoditas masih tumbuh lebih lambat dibanding rata-rata nasional,” urai Dr. Laurensius.
Karena itu peningkatan hasil pertanian tidak bisa hanya mengandalkan perluasan areal tanam. Harus didukung pengelolaan air yang baik, penggunaan benih unggul, pemupukan tepat, dan penerapan teknologi budidaya sesuai karakteristik wilayah.
“Masalah utama Timor bukan kekurangan lahan, tetapi ketidakpastian air,” tegasnya.
Kolaborasi Pengetahuan Lokal dan Modern
Pandangan itu diperkuat Pemangku Adat Marthen Benyamin, http://S.Sos. Ia menilai petani sudah punya pengalaman panjang mengelola lahan dan memahami alam setempat. Namun tantangan saat ini menuntut kolaborasi lebih erat antara pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan modern.
“Keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan proses tanam dan panen, tetapi juga ketepatan waktu pembibitan, penanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit,” ucap Marthen.
Ia menilai kerja sama antara masyarakat dan perguruan tinggi penting agar ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar menjawab kebutuhan petani di lapangan. Semangat gotong royong dan budaya saling membantu juga tetap menjadi modal penting menghadapi tantangan pertanian.
Informasi dan Distribusi Jadi Kunci
Ketua Yayasan Kaya Tene, Zainuddin Umar, mengingatkan persoalan pangan tidak selalu karena kurangnya program. Dalam banyak kasus, tantangannya adalah bagaimana informasi menjangkau masyarakat hingga ke desa.
Ia mencontohkan masih banyak petani belum mengetahui perubahan tata kelola pupuk bersubsidi. Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025 telah memangkas 145 regulasi terkait tata kelola pupuk bersubsidi.
“Namun kemudahan itu perlu terus disosialisasikan agar manfaatnya dirasakan masyarakat. Sering kali masalahnya bukan karena tidak ada, tetapi karena informasinya belum sampai,” ujar Zainuddin.
Ia menyebut pada 2026 pemerintah mengalokasikan pupuk bersubsidi nasional 9,8 juta ton. Untuk NTT alokasinya sekitar 194 ribu ton. Hingga pertengahan Juni 2026, stok pupuk bersubsidi di NTT masih lebih dari 15 ribu ton.
“Ini menunjukkan tantangan saat ini bukan hanya ketersediaan, tetapi juga distribusi dan penyebaran informasi hingga ke tingkat petani,” sambungnya.
Saat ini petani yang terdaftar di e-RDKK dapat menebus pupuk bersubsidi lewat aplikasi i-Pubers hanya dengan KTP. Akses juga diperluas melalui kelompok tani dan Koperasi Desa Merah Putih yang diharapkan memperkuat distribusi sarana produksi hingga ke desa.
Zainuddin menilai koperasi akan punya peran strategis di wilayah kepulauan seperti NTT. Selain mendekatkan akses sarana produksi, koperasi juga bisa menjadi ruang kolaborasi, edukasi, dan pemberdayaan.
Pesan Bersama: Peran Pemuda Menentukan
Di sisi lain, Zainuddin mengingatkan pupuk bukan satu-satunya tantangan. Di banyak wilayah NTT, persoalan air masih menjadi hambatan utama produktivitas. Karena itu upaya memperluas akses air perlu diperkuat, termasuk melalui program seperti TNI Manunggal Air.
“Menjaga pangan tidak cukup bicara apa yang ditanam. Kedaulatan pangan adalah kemampuan membangun ekosistem yang mendukung petani, mulai dari air, benih, pupuk, teknologi, akses pasar, hingga penguatan kelembagaan di desa,” katanya.
Seminar ini pada akhirnya menghadirkan pesan yang sama: masa depan pangan Indonesia tidak ditentukan kebijakan atau teknologi semata. Masa depan itu ditentukan oleh hadir atau tidaknya generasi muda yang bersedia terlibat, berinovasi, dan mengambil peran.
“Di tengah perubahan zaman yang cepat, menjaga kedaulatan pangan bukan lagi sekadar urusan petani, melainkan tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap memiliki pangan yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan,” pungkas Zainuddin.
(GD/Sky)