
Berita Teraktual-Kota Bekasi
Kembalinya Wali Kota Bekasi Tri Adhianto usai melaksanakan Perjalanan Dinas Luar Negeri (PDLN) ke Tiongkok pada 10–14 Desember 2025, langsung diikuti dengan langkah konkret. Setibanya di tanah air, Tri menggelar rapat kerja guna menerapkan hasil pembelajaran yang diperoleh selama kunjungan tersebut.
Kunjungan kerja ke Tiongkok difokuskan pada studi pengelolaan sampah dan air limbah sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Kota Bekasi Sehat. Dari hasil studi banding itu, pemerintah kota memperoleh strategi nyata untuk menekan timbunan sampah sejak dari sumbernya atau hulu.
“Banyak hal yang kami pelajari untuk menuju kota yang sehat, terutama bagaimana sampah bisa kami optimalisasikan dengan mengurangi dari hulu,” ujar Tri, Selasa (16/12/2025).
Tri mengungkapkan, saat ini Pemkot Bekasi telah mengajukan pengolahan sampah di kawasan Bantar Gebang sebesar 1.400 ton per hari yang direncanakan dapat dimusnahkan sekaligus diubah menjadi tenaga listrik.
“Di Bantar Gebang, kami sudah mengajukan 1.400 ton per hari yang nantinya bisa dimusnahkan menjadi energi listrik,” tegasnya.
Selain persoalan sampah, Tri juga menyoroti pengelolaan limbah tinja dan air lindi yang selama ini kerap mencemari aliran sungai. Meski status Open Defecation Free (ODF) telah tercapai, tantangan baru muncul dari pengelolaan tinja rumah tangga akibat jamban yang telah penuh.
Sebagai solusi, Pemkot Bekasi telah menjalankan proyek percontohan berbasis komunitas di wilayah Margahayu.
“Warga cukup menabung Rp10 ribu per bulan ke Pak RW, dan tabungan itu disimpan di Bank Syariah. Dengan sistem ini, warga bisa menyedot WC kapan saja tanpa biaya tambahan,” jelas Tri.
Namun demikian, ia mengakui masih banyak kawasan industri dan fasilitas umum yang belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai. Limbah tersebut kerap dibuang langsung ke sungai, seperti Kali Sunter dan Kali Cakung.
“Saat ini kapasitas IPAL kami sekitar 150 liter per hari. Tapi masih banyak pengangkut tinja swasta yang tidak membuang ke Bantar Gebang,” ungkapnya.
Tri menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk hadir secara penuh dalam mengatasi persoalan lingkungan tersebut. Berbagai langkah strategis akan ditempuh, mulai dari adopsi teknologi pengolahan limbah modern yang dipelajari di Tiongkok hingga pemberian subsidi bagi warga kurang mampu.
“Pemerintah harus hadir. Kami juga akan memberikan subsidi kepada masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk mengelola limbah tinja,” pungkasnya.
Melalui langkah ini, Pemerintah Kota Bekasi menargetkan terobosan signifikan dalam menyelesaikan dua persoalan lingkungan utama—sampah dan limbah cair—yang selama ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem dan kesehatan masyarakat.(AHD)