
Berita Teraktual-Jakarta
Sepuluh tahun sejak peluncurannya, program Tol Laut masih belum sepenuhnya berhasil memaksimalkan muatan balik kapal. Direktur Maritim Research Institute (Marin Nusantara), Makbul Ramadhani, menyampaikan hal ini melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, 22 Januari.
“Program Tol Laut hadir untuk menjawab disparitas harga dan memperkuat distribusi logistik di daerah tertinggal, terpencil, dan terdepan (3T). Namun, sejumlah tantangan masih menghambat pemanfaatan program ini secara maksimal,” kata Makbul.
Selama program berjalan, Marin Nusantara secara konsisten memberikan perhatian melalui ide dan gagasan, riset dan rekomendasi kebijakan kepada Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Perhubungan Laut yang menjadi leading sektor program Tol Laut.
Makbul mencontohkan, terdapat beberapa trayek yang muatan baliknya masih sangat rendah, misalnya Trayek H-4, S-2A, S-2B, dan lain-lain.
Faktor-faktor yang menjadi hambatan utama bagi optimalisasi muatan balik kapal Tol Laut antara lain paradigma Tol Laut masih diposisikan sebagai program transportasi, tidak adanya institusi yang secara eksplisit dan berbasis regulasi bertanggung jawab penuh sebagai agregator dan penjamin muatan balik kapal Tol Laut, dan lain-lain.
Marin Nusantara menekankan rekomendasi berupa beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah, antara lain memajukan paradigma Tol Laut, menetapkan institusi penanggung jawab muatan balik Tol Laut, dan meningkatkan sinergi dengan kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah.
“Kami mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menindaklanjuti rekomendasi ini agar muatan balik Tol Laut bisa lebih optimal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Makbul Ramadhani.(GD/Sky)