
Berita Teraktual-Kota Bekasi
Ketua FPIPPWK, Dr. Prabawa Eka Soesanta, menegaskan pentingnya pendidikan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di tengah dinamika masyarakat urban seperti Kota Bekasi.
Menurutnya, Indonesia sejak awal berdiri bukan karena kesamaan latar belakang, melainkan karena adanya kesepakatan untuk hidup bersama dalam keberagaman dengan berlandaskan Pancasila.
“Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga perekat keberagaman bangsa,” ujar Prabawa, Sabtu (9/5/2026).
Ia menilai, di tengah arus globalisasi dan perkembangan digital yang semakin pesat, pendidikan Pancasila tidak cukup hanya diajarkan secara formal dan teoritis. Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, toleransi, musyawarah, dan keadilan sosial harus mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, Prabawa mengakui masih terdapat berbagai tantangan dalam upaya penguatan ideologi Pancasila, terutama di kalangan generasi muda. Salah satunya adalah belum terinternalisasinya nilai-nilai Pancasila secara utuh di tengah derasnya arus informasi digital.
“Kita menghadapi tantangan besar di ruang digital. Generasi muda sangat rentan terhadap pengaruh informasi yang tidak sehat,” katanya.
Menurut dia, media sosial saat ini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial yang dapat mengganggu persatuan bangsa.
Selain itu, perubahan pola hidup masyarakat perkotaan yang cenderung individualistis juga dinilai menjadi tantangan tersendiri. Nilai kepedulian sosial dan budaya gotong royong disebut mulai mengalami pergeseran di tengah kehidupan urban yang serba cepat dan kompetitif.
Dalam konteks Kota Bekasi, Prabawa menyebut wilayah tersebut sebagai miniatur Indonesia karena memiliki tingkat keberagaman masyarakat yang sangat tinggi.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 2,5 juta jiwa dan dominasi usia produktif, Bekasi dinilai memiliki potensi besar sekaligus tantangan sosial yang kompleks.
“Urbanisasi, persaingan kerja, hingga tekanan ekonomi menjadi tantangan yang harus diimbangi dengan penguatan karakter kebangsaan,” jelasnya.
Ke depan, FPIPPWK berencana mendorong penguatan ideologi Pancasila melalui pendekatan yang lebih relevan dengan generasi muda. Program yang disiapkan meliputi edukasi berbasis digital, forum diskusi kebangsaan, kolaborasi lintas elemen masyarakat, hingga penguatan nilai persatuan melalui seni dan budaya.
Tak hanya itu, literasi digital juga menjadi fokus utama guna menangkal penyebaran informasi negatif sekaligus memperkuat konten-konten positif yang mendorong persatuan dan semangat kebangsaan.
Prabawa berharap seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, keluarga, komunitas pemuda, hingga insan pers, dapat terlibat aktif dalam gerakan penguatan nilai-nilai Pancasila.
“Menjaga Pancasila berarti menjaga masa depan Indonesia. Ini bukan tugas satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama,” pungkasnya.(Her)