
Berita Teraktual-Cirebon
Langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang disebut mengundang Botok dan sejumlah aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu mendapat sorotan dari aktivis asal Cirebon, Heru Cirebon.
Heru menilai langkah tersebut berpotensi menjadi “bunuh diri politik” bagi Dedi Mulyadi, terutama jika dikaitkan dengan perjalanan dan masa depan politiknya menuju Pemilu 2029.
Menurut Heru, Dedi Mulyadi saat ini merupakan salah satu figur politik dengan tingkat popularitas dan elektabilitas yang cukup tinggi. Namun, modal tersebut tidak akan cukup apabila tidak dibarengi keberanian politik dalam menghadapi berbagai persoalan publik, termasuk isu pemberantasan korupsi dan dugaan korupsi berskala besar di Jawa Barat.
“Saya sangat yakin bahwa hari ini KDM sedang mengalami kiamat dan mengubur dirinya dalam-dalam dalam kegiatan politik yang saya kategorikan sebagai politik yang membinasakan dirinya,” ujar Heru. Senin, (1/9/2026).
Pertemuan Dinilai Harus Dibuktikan Langkah Nyata
Heru menilai pertemuan Dedi Mulyadi dengan aktivis yang selama ini menyuarakan pemberantasan korupsi, perampasan aset hasil korupsi, hingga hukuman berat bagi koruptor, akan menjadi bumerang apabila tidak diikuti langkah konkret.
Ia mengaku telah berulang kali menyampaikan tantangan agar persoalan korupsi kelas kakap di Jawa Barat dibahas secara terbuka. Salah satunya melalui gagasan sayembara untuk menangkap koruptor.
“Saya, Heru Cirebon, yang juga penggagas Parlemen Bayangan di Insinyur Pasti, pernah dan berulang kali menyatakan tantangan untuk melakukan sayembara tangkap koruptor kakap, khususnya di Jawa Barat, atau minimal membicarakan masalah korupsi besar di Jawa Barat. Tetapi hasilnya nihil,” katanya.
Karena itu, Heru mempertanyakan substansi pertemuan tersebut. Menurutnya, pertemuan dengan aktivis antikorupsi tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai keberpihakan terhadap agenda pemberantasan korupsi apabila tidak disertai keberanian mengambil sikap dan tindakan.
“Ini sekali lagi saya katakan: bunuh diri politik terhadap dirinya dan masa depannya,” tegas Heru.
Kritik ke Dedi Mulyadi dan Aktivis yang Hadir
Heru juga mempertanyakan keputusan Botok dan sejumlah aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu yang memenuhi undangan tersebut.
“Jika seandainya Anda mengetahui, atau setidaknya tahu Dedi Mulyadi adalah pemimpin yang sangat takut dengan koruptor, mengapa Anda harus datang? Mengapa Anda melayani undangannya?” ujar Heru.
Menurut Heru, isu pemberantasan korupsi dan kemanusiaan seharusnya tidak digunakan semata-mata untuk kepentingan elektoral ataupun pencitraan politik.
“Yang dilakukan Dedi Mulyadi dengan mengundang aktivis antikorupsi dan pendukung hukuman mati adalah sebuah pencitraan yang sangat naif,” kata Heru.
Ia menegaskan kritik tersebut merupakan sikap politik dan pandangan pribadinya. Karena itu, ia menyerahkan kepada masyarakat untuk menilai tujuan dan dampak dari pertemuan tersebut.
“Masyarakat tentunya sudah bisa bijak, sudah pintar, sudah dewasa dan cerdik untuk bisa memberikan apresiasi, kritik, atau bahkan menilai siapa saja yang memanfaatkan isu-isu kemanusiaan, pemberantasan korupsi, dan tangkap koruptor kelas kakap, hukuman mati buat koruptor, tetapi justru dibelokkan untuk kepentingan yang sangat sempit, kepentingan elektoral, kepentingan politik,” katanya.
Heru kembali menegaskan, penggunaan isu antikorupsi dalam komunikasi politik tanpa dibarengi keberanian menghadapi persoalan besar justru berpotensi menjadi bumerang bagi seorang pemimpin.
“Ini kesempatan Dedi Mulyadi yang terakhir kalinya dalam karier politiknya memanfaatkan aktivis kemanusiaan, antikorupsi, hukuman mati bagi koruptor untuk kepentingan pribadinya,” pungkas Heru.
(GD/Sky)