Oleh: Yudhie Haryono dan Agus Rizal – Nusantara Centre

Pojok Aktual
Dalam rangka menajamkan diskursus kedaulatan ekonomi, Nusantara Centre sedang menjalankan program “Investasi, Inovasi, Hilirisasi, dan Industrialisasi (4I)”. Serangkaian FGD, seminar, riset, dan penulisan buku tengah dikerjakan. Tulisan ini merupakan kertas kerja keempat sebagai pengantar pertemuan di Semarang. Pertemuan berikutnya akan berlangsung di Denpasar berupa simposium, sekaligus penerbitan buku dan jurnal.
1. Akar Perubahan Ada di Cara Berpikir
Banyak warga negara mengira kebangkitan dimulai dari budaya, agama, ekonomi, teknologi, atau politik. Itu tidak salah, tetapi kurang fundamental. Sebab perubahan terbesar selalu dimulai dari cara berpikir.
Posisi pemikiran menjadi sangat penting, terutama dalam menentukan di mana kita meletakkan program industrialisasi dalam kerangka kedaulatan dan kemandirian ekonomi-politik nasional.
Ketika ditanya, “apa yang harus dilakukan jika ada kesempatan untuk ikut memperbaiki republik?” Jawabannya tegas: menjalankan Panca Dharma sebagai tafsir atas Pancasila, yaitu: Rekonstitusi, Nasionalisasi, Rekapitalisasi, Refinansialisasi, dan Reindustrialisasi.
Tulisan ini secara khusus fokus pada industrialisasi. Hadir untuk memastikan nilai-nilai Pancasila dan perintah konstitusi menjadi nyata.
2. Panca Problema Indonesia
Kita sedang menghadapi lima persoalan besar bangsa:
- Negara limbo: yang lama hilang, yang baru tak kunjung datang.
- Warga negara fraktalis: kehidupan terpecah dan multifokus.
- Mental rakyat volatil: visi misi mudah berubah di tengah gejolak politik.
- Karakter elit jago kandang: inward looking, senang melihat kawan gagal dan sedih melihat kawan sukses.
- Tradisi sekolah rabun: pandangan kabur terhadap sejarah sehingga bimbang menatap masa depan.
Akibatnya nyata. Sampah korupsi: 2004-2023 KPK telah menangkap 1.615 orang, 880 di antaranya pejabat publik. Sampah lingkungan: per 2022 hutan, sungai, dan laut kita termasuk paling tercemar di dunia. Sampah industri: per 2023 menurut FED, Indonesia produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia.
Belum lagi keruwetan lalu lintas, birokrasi yang lambat, dan pelayanan publik yang buruk. Muara dari semua itu adalah kemiskinan, pengangguran, dan kebodohan.
3. Negara Konsumen vs Negara Produsen
Di titik ini kita butuh revitalisasi industri. Proyek reindustrialisasi penting karena sektor industri adalah penggerak ekonomi yang menciptakan lapangan kerja luas dan nilai tambah besar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya: deindustrialisasi.
Kontribusi industri terhadap PDB dan daya serap tenaga kerja menurun. Jumlah perusahaan industri menyusut, bahkan banyak yang bangkrut. Kondisi ini berlangsung lebih dari satu dekade.
Kita seperti digiring menjadi negara konsumen, anti produsen, dan alergi teknologi. Padahal ini bertentangan dengan DNA kita sebagai bangsa maritim, peradaban berteknologi tinggi, dan penakluk semesta melalui jalur rempah dan jalur spiritualitas.
Akibatnya, industri besar, menengah, kecil, dasar, hingga strategis mengalami stagnasi. Padahal jika dikerjakan sungguh-sungguh, kita bisa kembali tumbuh sebagai negara kekuatan besar.
4. Peta Jalan Reindustrialisasi
Lalu bagaimana? Jawabannya: reindustrialisasi melalui arsitektur industri baru yang berlapis:
- Basis: pertanian, kesehatan, kelautan, peternakan, perikanan
- Tengah: digital, IT, finansial, industri pertahanan
- Tinggi dan Strategis: energi berkelanjutan, penerbangan, satelit, nuklir
Ini bagian dari transformasi industri menyeluruh untuk menjawab kemiskinan, pengangguran, dan kebodohan.
Singkatnya, tidak ada peradaban besar yang mengabaikan industri dan teknologi. Tetapi harus industri yang memanusiakan manusia, berkelanjutan, dan menghormati bumi serta lingkungan.
Menarik tesis Friedrich Nietzsche, “der wille zur macht”, bahwa manusia berkuasa untuk menciptakan masa depan. Masa depan yang berpihak melawan “musuh” umat manusia: kebodohan, kemiskinan, kerusakan peradaban, serta perlombaan industri dan teknologi yang berujung perang dan penjajahan. Semoga.
(GD/Sky)