Oleh: Syafrudin Budiman, S.IP
Komisaris PT. Jasa Marga Related Business (JMRB)

Pojok Aktual
Pidato Presiden Prabowo Subianto di Semarang pada 30 Juli 2026 menjadi tonggak penting pembangunan infrastruktur nasional. Presiden menegaskan keinginannya agar jaringan Kereta Api Trans Sumatera tersambung penuh dari Bakauheni, Lampung hingga Banda Aceh.
Arahan tersebut bukan sekadar membangun rel. Ini adalah visi besar membangun koridor ekonomi baru Indonesia yang terintegrasi dengan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Jika kedua infrastruktur ini selesai, Sumatera akan memiliki sistem transportasi darat paling modern di Indonesia.
Kereta api akan menjadi tulang punggung angkutan massal penumpang dan logistik. Sementara jalan tol menjadi jalur kendaraan pribadi, bus, dan distribusi barang berkecepatan tinggi.
Kapan Pembangunan Dimulai?
Hingga akhir Juli 2026 pemerintah belum mengumumkan jadwal resmi groundbreaking. Namun Presiden telah mengarahkan Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk segera mempersiapkan proyek.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya menjelaskan proyek Trans Sumatera Railway akan dipercepat melalui skema pembiayaan di luar APBN. Skemanya meliputi KPBU, investasi swasta, dan sovereign wealth fund.
Dengan perencanaan yang dimulai 2026, tahap awal pembangunan fisik diperkirakan dimulai bertahap setelah desain teknis, pembebasan lahan, dan penutupan pendanaan selesai.
Berapa Kebutuhan Anggarannya?
Pemerintah belum merilis angka resmi. Namun dengan panjang koridor Bakauheni–Banda Aceh sekitar 2.100–2.300 km, kebutuhan investasi diperkirakan Rp450 triliun hingga Rp700 triliun. Angka ini tergantung spesifikasi: jalur ganda, jembatan, terowongan, stasiun, depo, elektrifikasi, dan sistem persinyalan modern.
Investasinya besar, tapi manfaat ekonominya jauh lebih besar. Proyek ini mampu menurunkan biaya logistik nasional dan mempercepat distribusi hasil perkebunan, pertanian, industri, serta pelabuhan di sepanjang Sumatera.
Pembagian Koridor Bertahap
Agar realistis, proyek bisa dibangun per seksi:
- Bakauheni – Bandar Lampung
- Bandar Lampung – Palembang
- Palembang – Jambi
- Jambi – Pekanbaru
- Pekanbaru – Rantau Prapat
- Rantau Prapat – Medan
- Medan – Binjai – Langsa
- Langsa – Lhokseumawe
- Lhokseumawe – Banda Aceh
Pendekatan bertahap membuat setiap seksi langsung memberi manfaat ekonomi tanpa menunggu seluruh jaringan selesai.
Sinergi Rel dan Tol: Model Negara Maju
Yang menarik, Kereta Api Trans Sumatera akan berjalan berdampingan dengan Jalan Tol Trans Sumatera. Model ini sudah terbukti sukses di Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Eropa.
Kereta api untuk angkutan massal dan logistik berkapasitas besar dengan biaya rendah. Jalan tol untuk kendaraan pribadi, bus antarkota, dan logistik cepat. Dua moda ini akan saling melengkapi dan memperkuat daya saing Sumatera.
Dampak Ekonomi yang Luas
- Turunkan biaya logistik nasional secara signifikan
- Percepat distribusi sawit, karet, kopi, batu bara, dan hasil pertanian
- Tumbuhkan kawasan industri baru di sepanjang jalur
- Dorong investasi swasta karena akses makin baik
- Kembangkan pariwisata karena mobilitas makin mudah
- Ciptakan jutaan lapangan kerja saat konstruksi dan operasional
- Percepat pemerataan pembangunan antarprovinsi di Sumatera
Momentum Indonesia Emas 2045
Visi Presiden Prabowo bukan hanya membangun rel dan tol. Ini tentang membangun masa depan Indonesia.
Ketika Kereta Api Trans Sumatera dan Jalan Tol Trans Sumatera tersambung penuh, maka Sumatera akan menjadi koridor ekonomi terbesar kedua setelah Jawa.
Sumatera punya SDA, kawasan industri, pelabuhan internasional, pusat energi, dan lahan pertanian raksasa. Infrastruktur modern akan mengubah semua potensi itu jadi kekuatan ekonomi nasional.
Karena itu, percepatan Trans Sumatera Railway dan penyelesaian JTTS harus dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk generasi mendatang.
Jika terwujud, Indonesia akan memiliki sistem transportasi darat yang cepat, aman, efisien, ramah lingkungan, dan mampu memperkuat daya saing menuju Indonesia Emas 2045.
(Red/Sky)