
Berita Teraktual-Kota Bekasi
Warga di sekitar lokasi pembangunan Proyek PSEL di samping Polder Ciketing Udik, Sumur Batu, Kota Bekasi, kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Proyek yang nantinya sebagai lokasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik tersebut justru memicu masalah baru yang mengancam kesehatan masyarakat: polusi debu ekstrem.
Aktivitas truk-truk pengangkut tanah yang berlalu-lalang tanpa henti memicu kepulan debu tebal yang menyelimuti permukiman, jalanan, hingga masuk ke dalam rumah warga. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya akses jalan lingkungan yang kini berubah menjadi jalur tanah berlubang dan gersang.

Jeritan Warga yang Terabaikan
Dalam sebuah rekaman video, seorang ibu paruh baya yang mengenakan masker tampak emosional saat menyuarakan penderitaannya. Sambil menunjuk ke arah kepulan debu di jalanan, ia mendesak Pemerintah Kota Bekasi dan Kepala Dinas terkait untuk segera turun tangan.
”Pak Wali Kota, tolong saya! Ini debunya sudah tidak tertahankan akibat adanya pembangunan PSEL di sekitar polder. Sangat mengganggu sekali, Pak Kadis! Saya sudah tidak kuat. Tolong bantu saya, saya sudah melapor ke mana-mana tapi tidak ada yang merespons,” jeritnya dengan nada frustrasi.
Ibu tersebut menambahkan bahwa dampak debu ini merusak roda perekonomian lokal. Banyak warung makan dan toko di pinggir jalan yang terpaksa gulung tikar atau tutup lebih awal karena barang dagangan mereka terus-menerus terpapar debu tebal. Beban warga kian bertambah karena mereka juga harus menahan bau tidak sedap dari truk-truk sampah yang kerap terjebak macet di jalur yang sama.
Lansia dan Balita Mulai Terserang Penyakit
Dampak buruk polusi ini bukan sekadar mengotori lingkungan, melainkan sudah masuk ke fase krisis kesehatan. Di dalam rumah-rumah warga, kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak mulai bertumbangan akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Sebuah video dokumentasi warga memperlihatkan seorang nenek (lansia) dan seorang balita yang terus-menerus terbatuk-batuk di dalam rumah. “Ya Allah, emak saya sudah batuk-batuk (karena debu proyek),” tulis warga dalam keterangan video tersebut sembari menyematkan emotion menangis.
Warga juga memperlihatkan kondisi anak-anak yang terpaksa memakai masker bahkan saat berada di dalam rumah atau ketika melintasi jalanan rusak menggunakan sepeda motor demi menghindari paparan debu yang merusak paru-paru.
Alat Berat Terus Beroperasi, Warga Desak Solusi Nyata
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah alat berat seperti bulldozer dan puluhan truk jungkit (dump truck) hijau bermuatan tanah masih terus beroperasi di area proyek PSEL, menyisakan hamparan tanah kering yang siap terbang menjadi debu setiap kali tertiup angin atau tergilas roda kendaraan.
Hingga berita ini diturunkan, warga mengaku belum mendapatkan respons atau tindakan nyata berupa penyiraman jalan secara berkala atau kompensasi kesehatan dari pihak pengembang maupun dinas terkait. Warga meminta agar pemerintah tidak berbelit-belit dan segera menyelesaikan masalah ini sebelum jatuh korban jiwa akibat sesak napas.
”Tolong Pak, jangan bertele-tele! Urusin kami, Pak!” tegas warga.(Im)
Catatan Redaksi: Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pihak redaksi berkomitmen untuk menyajikan informasi yang berimbang, akurat, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, kami siap menerima Hak Jawab, tanggapan, klarifikasi, maupun koreksi dari instansi, dinas terkait, atau pihak pengembang proyek terkait keluhan yang disampaikan oleh warga di atas.