
Berita Teraktual-Jakarta
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menegaskan FKPPI harus memiliki Garis-Garis Besar Haluan Perjuangan (GBHP) sebagai pedoman jangka panjang.
GBHP dinilai penting untuk menjaga kesinambungan organisasi dari satu periode ke periode berikutnya, serta memastikan program kerja tetap berada dalam garis pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
“FKPPI harus memiliki haluan perjuangan yang menjaga kesinambungan organisasi lintas kepengurusan. Kita tidak boleh setiap pergantian kepemimpinan kembali mencari arah dari awal. GBHP harus menjadi kompas yang memastikan siapa pun yang memimpin tetap bergerak dalam satu visi besar, dengan program yang terukur dan relevan,” ujar Bamsoet saat Pembukaan Rapimnas Keluarga Besar FKPPI di Hotel Bidakara Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Turut hadir Ketum FKPPI Pontjo Sutowo, Sekjen FKPPI Anna R. Legawati, Ketua SC Penyelenggara Marsma TNI Arifaini Nur Dwiyanto, Brigjen TNI Boemi Ario Bimo dan Laksma TNI Cholik Kurniawan.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menyebut, GBHP semakin penting karena tantangan Indonesia berubah cepat. Ancaman ketahanan nasional kini merambah polarisasi sosial, ketimpangan ekonomi, disinformasi digital, perkembangan teknologi, ketergantungan ekonomi, hingga persaingan geopolitik dan geoekonomi.
“Jangan sampai FKPPI kuat dalam jumlah anggota, tetapi arah geraknya berubah-ubah mengikuti siapa yang memimpin. Program boleh berubah menyesuaikan zaman, tetapi nilai, visi, dan tujuan perjuangan harus punya pijakan kokoh. Di sinilah GBHP penting, sebagai benang merah penghubung sejarah FKPPI dengan masa depan Indonesia,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia itu memaparkan, GBHP harus menjadi rujukan penyusunan program kerja 10 hingga 20 tahunan, lalu diturunkan ke program konkret di semua tingkatan. Dengan struktur hingga rayon/desa, arah besar itu harus diwujudkan menjadi kerja nyata di daerah.
“GBHP harus menjadi dasar program jangka panjang, lalu diturunkan ke program tahunan yang jelas targetnya. Setiap kepengurusan harus menjawab 3 pertanyaan: apa yang dikerjakan, untuk siapa manfaatnya, dan apa hasil yang bisa diukur. Keberhasilan FKPPI tidak hanya dari banyaknya kegiatan, tetapi dari kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara,” urai Bamsoet.
Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, GBHP juga harus memperkuat karakter FKPPI sebagai organisasi bela negara dan kader kebangsaan. FKPPI harus menjadi perekat persatuan, pencetak kader pimpinan, akselerator kesejahteraan rakyat, pendukung ketahanan nasional, agen modernisasi dan kedaulatan digital, serta mitra kritis pemerintah.
“Bela negara hari ini maknanya lebih luas. Anak muda harus membela negara lewat prestasi, kewirausahaan, penguasaan teknologi, ketahanan pangan, kepedulian sosial, menjaga persatuan, melawan disinformasi. Karena itu GBHP harus membuat FKPPI relevan bagi milenial dan Gen-Z yang jadi kekuatan besar kadernya,” pungkas Bamsoet.
(GD/Sky)