Berita Teraktual-Kota Bekasi

Keterbatasan ruang kelas di SMK Negeri 13 Kota Bekasi membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) harus dibagi menjadi dua shift. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai solusi sementara agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti proses pembelajaran di tengah keterbatasan fasilitas belajar.
Pihak sekolah menjelaskan, sistem dua shift dilakukan karena jumlah rombongan belajar saat ini belum sebanding dengan kapasitas ruang kelas yang tersedia. Dalam pelaksanaannya, sebagian siswa mengikuti pembelajaran pada pagi hari, sementara kelompok lainnya belajar pada siang hingga sore hari.
“Kondisi ini memang belum ideal, tetapi langkah tersebut dilakukan agar seluruh siswa tetap mendapatkan hak belajar secara merata,” ujar pihak sekolah, Rabu (20/5/2026).
Menurut pihak sekolah, peningkatan jumlah peserta didik setiap tahun menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kebutuhan ruang belajar terus bertambah. Meski dihadapkan pada keterbatasan sarana, sekolah tetap berupaya menjaga kualitas pelayanan pendidikan bagi seluruh siswa.
Sistem pembelajaran dua shift dinilai memiliki sejumlah tantangan, baik bagi siswa maupun tenaga pendidik. Jadwal belajar hingga sore hari disebut dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran serta kondisi fisik siswa.
“Sekolah terus melakukan penyesuaian agar proses belajar tetap berjalan kondusif dan siswa tetap disiplin mengikuti jadwal yang telah ditentukan,” lanjutnya.
Di sisi lain, sejumlah orang tua siswa berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan infrastruktur pendidikan, khususnya penambahan ruang kelas baru di sekolah negeri.
“Kami berharap ada solusi jangka panjang supaya anak-anak bisa kembali belajar dalam jadwal normal tanpa harus bergantian shift,” ungkap salah satu perwakilan orang tua siswa.
Menurut mereka, persoalan kekurangan ruang kelas bukan hanya terjadi di satu sekolah, tetapi juga menjadi tantangan di sejumlah wilayah dengan pertumbuhan jumlah siswa yang cukup tinggi.
Karena itu, diperlukan sinergi antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat agar kebutuhan sarana pendidikan dapat terpenuhi secara bertahap.
Meski menghadapi keterbatasan fasilitas, para orang tua tetap optimistis kondisi tersebut dapat diatasi melalui dukungan berbagai pihak dan pembangunan fasilitas pendidikan yang lebih memadai di masa mendatang.(AHD)