
Berita Teraktual-Bekasi
Ketua Komunitas Pemulung & Pelapak Pilah Burangkeng (KP3B), Narta Nurhata, mendesak Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk mengambil langkah preventif dalam pengelolaan sampah pasca-Lebaran. Volume sampah di TPA Burangkeng melonjak signifikan, terutama sampah sisa makanan yang tidak memiliki nilai jual.
“Sampahnya semakin banyak, terutama sampah sisa makanan yang tidak diambil pemulung karena tidak ada nilai jualnya,” kata Narta yang biasa disapa Konang, Minggu (22/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa lonjakan sampah ini terjadi setiap tahunnya dan membuat TPA Burangkeng semakin penuh dan rawan longsor.

Konang mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja dan memasak selama perayaan lebaran agar sisa makanan yang terbuang bisa ditekan.
“Membuang makanan itu selain mubazir, juga langsung menambah tumpukan di TPA. Padahal TPA Burangkeng sudah semakin penuh dan rawan longsor,” katanya.
Lebih lanjut, Konang mengungkapkan bahwa pengurangan sampah di TPA Burangkeng hanya mengandalkan kerja para pemulung secara swadaya. Mayoritas pemulung memilih mengambil sampah anorganik seperti plastik, logam, dan sejenisnya karena masih memiliki nilai jual. Sementara sampah organik berupa sisa makanan tidak disentuh karena tidak memberikan penghasilan bagi mereka.
Akibatnya, tumpukan di TPA Burangkeng terus bertambah sementara kemampuan pengurangan sampah di lapangan sangat terbatas.
“Pemulung sudah aktif memilah sampah, tapi itu saja tidak cukup. Pemerintah harus segera masuk dengan teknologi pengolahan sampah agar bisa sama-sama menekan volumenya, baik yang organik maupun anorganik,” tutup Konang.(Red/Sky)